November 18, 2016 Ahmadchels 0Comment

Cerita pendek atau biasa di singkat adalah salah satu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita  pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lainnya yang cenderung lebih panjang, seperti dan novel.

Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang yang lebih panjang ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Kali ini saya akan menjelaskan point penting dalam meresensi cerpen dalam hal ini terdapat 7 point yang akan saya jelaskan. berikut adalah penjelasannya.

1. Penjelasan Cerpen 9 dari Nadira

Meresensi cerpen 9 dari nadira

 

⇒ Judul Cerpen    : 9 dari Nadira

⇒ Pengarang          : Leila S. Chudori

⇒ Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia

⇒ Tebal buku          : 270 halaman

⇒ Cetakan Tahun   : Oktober 2009

⇒ Rate                       : 4.5 / 5
 

2. Pendahuluan dari Leila S. Chudori

Lahir di Jakarta, 12 Desember 1962 ; umur 53 tahun. Beliau adalah seorang penulis berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa cer ita pendek, novel, dan skenario drama televisi. Leila merupakan salah satu sastraan yang mengawali debutnya sejak anak-anak.  Karya-karya Leila dimuat saat ia berusia 12 tahun di majalah si kuncung. Leila S. Chudori juga sering mendapatkan penghargaan atas tulisannya, di antaranya Penghargaan Penulis Skenario drama televisi terpuji ( 2006 ; Dunia tanpa koma ). Adapun buku yang telah diciptakan diantaranya, Kelopak-kelopak yang berguguran, malam terakhir, Menagerie2, dan 9 dari nadira.

3. Isi cerpen 9 dari nadira

Hal 1 meresensi cerpen

“Jakarta tidak memiliki seikat seruni. Tetapi, aku akan mencarinya sampai ke ujung dunia, agar ibu bisa mengatupkan matanya dengan tenang.”Mencari Seikat Seruni, “9 dari Nadira”

Dua tahun bekerja sebagai jurnalis surat kabar Tera, Nadira dikenal sebagai sosok yang begitu dikagumi di kantornya. Ia cerdas, pemikirannya selalu brilian, dan juga hobinya yang terlampau hemat kata.Namun, pagi itu semua orang bergunjing, teman-teman kantornya, atasannya, begitu juga dengan Jakarta. Tidak ada seorang pun yang tahu, apa alasan ibu Nadira, Kemala Yunus, mengakhiri hidupnya.

Kemala bukan orang sembarangan, menurut Nadira. Ibunya selalu dikenal sebagai perempuan yang berani, melangkahi pemikiran kolot dari para mertua, dan berpikiran bebas. Tapi, sekali lagi pertanyaan itu menyembul, apa yang sesungguhnya terbersit di benak Kemala ?

  • Mencari seikat seruni
  • Nina dan nadira
  • Melukis langit
  • Tasbih
  • Ciuman terpanjang
  • Kirana
  • Sebilah pisau
  • Utara Bayu
  • At Pedder Bay

Leila S. Chudori memang patut diacungi jempol. Lewat pemikiran lugasnya serta kesembilan cerpen bikinannya, ia sukses membuat hidup Nadira jungkir-balik. Semuanya diceritakan dari sebuah kelahiran. Lantas, di detik yang sama, Kemala pun menutup sesuatu yang begitu fundamental dalam hidupnya. Tinggallah rahasia. Hanya itu yang ia sisakan kepada putri bungsunya, Nadira. Penyesalan pada putri pertamanya, Nina. Sedangkan putra satu-satunya, Arya, malah tak tahu rimbanya.Ide Leila  S. Chudori sederhananya masih berkutat pada memoar. Bukan lagi Dimas Suryo (Pulang, 2012), kali ini ia ingin membahas tentang perjalanan hidup Nadira melalui sembilan cerita pendek persembahannya. Tapi, tak lantas diri seorang Nadira diceritakan dengan penuh kesempurnaan dan berjalan sendiri dengan sunyi di kehidupan yang ingar bingar ini. Melalui fase-fase yang dihinggapinya, Leila S. Chudori pun meminjam banyak bibir untuk berbicara. Menguak satu per satu ketakutan dan keterpurukan Nadira, sekalipun karakternya selalu saja berlagak kuat, pemberontak, dan berani.

Hal 2 Meresensi cerpen

Sebagaimana cerpen “Mencari Seikat Seruni” dibuka, judulnya pun sudah menggambarkan isinya. Kemala Yunus hanya ingin diantar pergi oleh bunga kesukaannya—seruni. Dan Leila S. Chudori menulis cerpen pertamanya seperti ketika ia menulis “Pulang”. Selalu dilingkupi tempat dan tanggal sebelum dimulai, lantas latar pun dengan cepat berganti dari Jakarta menuju Amsterdam. Dimulai pada masa kini, ketika Nadira selalu bertanya-tanya tentang keputusan ibunya kemudian disela masa lalu, ketika sang ibu masih menetap ke Amsterdam; menimang Nadira kecil yang enggan minum susu. Ada yang menarik dari napak tilasnya, Leila S. Chudori membuka kertas rahasia Kemala tidak dengan napak tilas yang beraturan, alih-alih, acak dan membuat pembaca harus senantiasa berkonsentrasi.

“Nadira memeluk kakaknya erat-erat seolah tak ingin melepasnya lagi. Kepala Nina menyusup ke dada adiknya. Tiba-tiba saja, Nina baru tahu letak kunci yang dia lempar ke dalam lautan itu. Dan kini dia merasa sudah siap meminta maaf kepada adiknya.” Nina dan Nadira, “9 dari Nadira”

Nadira memang tak pernah lekang menjadi tokoh utama. Alih-alih, kali ini pembaca diajak menyelami perasaan Nina. Rasa depresi dan bersalah yang tak pernah meninggalkan hatinya. Melalui diri Nina, Leila S. Chudori berbicara tentang Nadira kecil yang pandai menulis namun menuai kecemburuan di benak kakak tertuanya. Alur yang disajikan Leila S. Chudori lagi-lagi memiliki intrik yang berliku, tidak saja membicarakan masa lalu, tapi juga membicarakan tentang cinta, yang membuat cerita ini semakin menarik.Leila S. Chudori memang sering kali dikaitkan dengan gaya menulis sastra, tapi kadang saya merasa, gaya bahasanya sendiri malah sangat ringan dan enak dinikmati. Punya diksi yang selalu mencampur-bahasakan benda dengan gerak. Kebendaan yang diciptakannya justru menyerupai benda hidup. Apalagi ketika ia menjelaskan New York yang menjadi latar belakang tempat Nina melarikan diri selama ini.

“Keempat …, aku hanya akan membunuh mereka yang berani menghina ibuku.” Tasbih, “9 dari Nadira”

Hal 3 meresensi cerpen

“Tasbih” lebih banyak didominasi oleh dialog. Tapi, dialog yang dilontarkan kedua tokohnya, Bapak X dan Nadira adalah kehidupan bagi plotnya. Bapak X bukan sekadar pembunuh bengis, tapi seorang psikater sinting yang mampu menjawab dan mengoyak pertanyaan Nadira sekaligus menyisipinya dengan sugesti mengenai dendam dan kepahitan di masa lalu. Alurnya cukup jelas. Tapi, yang saya favoritkan tetap ramuan komposisi dialog dan narasinya yang eksploratif. Sebagai jurnalis senior Tempo, Leila S. Chudori bercerita apa adanya. Ia ungkap semuanya seperti di koran. Begitupun dengan deskripsi tempat di mana wawancara itu dilakukan.

Adalah cerpen menarik kedua yang memikat mata saya, tidak hanya dari rentetan kalimat yang menarik, tapi merupakan kolaborasi antara tulisan dan ilustrasi. Ilustrator, Ario Anindito yang piawai membuat setiap ilustrasi dari cerita-cerita sebelumnya, kini ikut membuat karakter baru yang sering disebut “Kris” sebagai akuan yang menarasikan “Sebilah Pisau”. “Sebilah Pisau” bisa dibilang cerita drama dengan ide roman pada umumnya. Laki-laki yang ditinggal kawin oleh perempuan yang dicintainya diam-diam. Tapi, jangan bilang sudah bisa ditebak seperti novel-novel roman remaja.

Leila S. Chudori sengaja berjalan memutar. Cerita tidak dibuka dan menanjak menjadi konflik cinta. Alih-alih, Kris bersikap sebagai reviewer, mendeskripsikan Nadira seperti pembaca tidak pernah mengenalnya, lantas kebiasaannya di kantor, seperti Tera adalah sesuatu yang baru saat dibaca. Dan barulah isu-isu itu menjadi panas, saat Nadira bertemu pria yang sanggup membuatnya beranjak dari masa lalu, menuju masa depan, yang ia kira layak untuk diraih. Tapi, di balik kepercayaan yang Nadira anut tersebut, rupanya Tara, sebagai atasannya punya rasa lain, yang bisa diungkapkan seperti judulnya: “Sebilah Pisau”.

4. analisis unsur Intrinsik

  • Tema  : 9 dari nadira
  • Latar   :  Memperbaiki kehidupan orang
  • Alur     : Alur maju
  • Tokoh : – Leila S. Chudori

– Nadira

– Bapak X

  • Watak :

– Leila S. Chudori : Baik, dan pemurah

– Nadira                  : Mudah menyerah

– Bapak x                : Seorang psikopat ( suka membunuh )

  • Sudut Pandang : orang pertama menjadi tokoh utama
  • Amanat               : Hidup selalu bergantung pada orang lain

5. analisis unsur ekstrinsik

  • Nilai Moral : Kontrollah emosionalmu untuk melindungi orang di sekitarmu
  • Nilai Sosial : Saling bantu-membantu dalam kebaikan
  • Nilai budaya : –

6. Kekurangan dan kelebihan

Kekurangan : Bahasa nya terlalu baku hingga tidak banyak yang memahaminya

Kelebihan     : Alur cerita  nya mudah dipahami

7. Penutup

Cerita ini sangat cocok untuk abg, yang emosional nya tidak terkontrol. Karena dalam cerpen ini menceritakan tentang 2 orang gadis yang memiliki karakteristik berbeda. Dalam cerita ini juga menceritakan tentang seorang psikopat yang sangat bengis dalam membunuh, dia tidak akan tega-tega membunuh korban nya. Namun dalam cerpen ini diakhiri dengan kisah yang indah dan damai tanpa ada Pembunuhan atau yang lainnya.

Itulah 7 point penting yang harus diperhatikan dalam meresensi cerpen semoga bermanfaat untuk kita semua, apabila ada salah-salah kata mohon dimaafkan sekian dan terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *