3 Contoh Resensi Cerpen Terbaru dan Terunik

Contoh Resensi Cerpen – Cerita pendek atau di sebut juga Cerpen ini merupakan suatu bentuk Prosa naratif berbentuk fiktif. Cerpen cenderung singkat, padat, dan langsung pada inti dari cerita. Dibandingkan karya-karya fiksi lain nya yang cenderung lebih panjang, seperti hal nya contoh resensi buku, novel, film, buku non fiksi dan cerpen merupakan resensi yang paling mudah.

Cerpen merupakan suatu jenis karya sastra yang menggambarkan kisah atau cerita mengenai manusia beserta filosofi nya tersendiri lewat sebuah tulisan pendek dan singkat. Atau pengertian cerpen lainnya yaitu sebuah karangan fiktif yang berisi mengenai kehidupan seseorang ataupun kehidupan yang di ceritakan secara ringkas dan singkat yang berfokus pada suatu topik saja.

Cerpen biasanya memiliki kata sekurang-kurang nya dari 10.000 kata atau kurang dari 10 halaman saja, selain itu cerpen hanya memberikan sebuah kesan tunggal yang demikian serta memusatkan diri pada salah satu tokoh hanya salah satu sisinya saja. Berikut adalah Contoh Resensi cerpen yang baik dan benar.

Baca Juga :

 

 

 

3 Contoh Resensi cerpen

Kali ini kami akan memberikan 3 contoh resensi cerpen dari banyak nya Permintaan dari minat pembaca, contoh-contoh resensi yang kami berikan adalah salah satu resensi cerpen yang mudah di pahami. Simaklah penjelasan berikut ini ;

1. Dunia hanya seluas daun kelor

3 Contoh Resensi Cerpen Terbaru dan Terunik

  • Judul Cerpen : Dunia Hanya Seluas Daun Kelor
  • Pengarang      : Roidah
  • Penerbit          : ©Diva Press
  • Tebal buku     : 235 Halaman
  • Cetakan           : Januari 2005
  • Penerjemah    : –
  • Cerpen yang di resensi : Dari halaman 7 s/d 8

A. Pendahuluan

Contoh Resensi cerpen di awali dengan pendahuluan .

Roidah,pengarang wanita kelahiran Padang, 6 April 1975, ini sangat akrab dengan dunia jurnalistik. Memanatkan pendidikan S-1 di Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand). Berbagai karir pernah dan sedang ditekuninya, mulai dari Communication Specialist/Humas di Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi melalui Program The Habitat and Resource Management for the Kubu (2002-2004) bekerjasama dengan Norwegia Rain Forest, Communication Specialist/Humas di Komunitas Lankan Budaya Indonesia (KLBI) Padang Sumatera Barat (2004-kini), editor Buletin Alam Sumatera (2002-2004), wartawan Harian Umum Singgalang (2001-2002) hingga asisten Redaktur Pelaksana Harian Umum Suara Riau (1999), staf PT Andalas Global Press (1999-2001) dan terakhir sebagai koresponden Majalah Alkisah Aneka Yess! Jakarta untuk wilayah Sumatera Barat (2004-kini).

Pendidikannya dan pergaulannya yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis menghantarkannya menghasilkan beragam jenis karya tulis. Sebagian telah dipublikasikan di berbagai media massa. Novelnya yang telah diterbitkan, Love Me, Save Me. . . (DIVA Press, 2004). Sambil tetap berkecimpung secara aktif dalam berbagai kegiatan organisasinya, kini dia sedang serius merampungkan sebuah novel ChickLit yang direncanakan berjudul, Jangan Lari Dariku.

B. Isi Cerpen / Sinopsis

•Hal Ke 1

(Contoh Resensi cerpen) – Suatu hari di perjalanan pulang dari Kampus, Ika memberhentikan sebuah bis untuk ditumpanginya sampai rumah. Saat didalam bis, penanya terjatuh dari kursi yang didudukinya. Lalu terdengar suara deheman disebelah kanan, segera dirapikan kembali duduknya tanpa memungut pena tersebut.
     “Hem!” getar suara itu lagi untuk kedua kalinya. Ika melirik pemilik suara. Hop! Dia lagi! Rasanya ingin kuterjang tubuh besarnya lalu lari melesat ke bangku lain atau malah melompat dari bis kalau saja tangannya yang kokoh itu tidak mencegah niatku. Kelancangannya, keisengannya, digombali dan dikejar-kejar yang membuatku menjadi kesal dan malah keki sendiri tiap kali bertemu ataupun melihatnya. Dia bilang kalau tindakkannya saat itu tidak disengaja. Teman-temannya yang mengajarinya, blaa…bla… aku tak menanggapi penjelasannya. Namun aku jadi tenggelam pada peristiwa yang diungkitnya itu.
       Yaaa.. lelaki yang duduk disampingku ini. Lelaki yang memaksaku untuk berkenalan. Lelaki yang tempo hari saat dikelas melemparkan secarik kertas kepadaku yang bertuliskan “Kamu manis, mau gak jadi cewekku?” . Aku melongok ke belakang, samping kiri dan kanan mencari si penulis kalimat itu. Segerombolan cowok yang duduk dipojokan tertawa riuh. Namun aku tak kenal mereka. Maklum perkuliahan Kewiraan memang diikuti massal oleh mahasiswa, lebih dari seratusan, gabungan dari beberapa fakultas. Umumnya diikuti mahasiswa tahun satu, sehingga kami belum begitu saling mengenal alias belum tau banyak nama.

• Hal Ke 2

(Contoh Resensi cerpen) – Dia meminta maaf kepadaku , namun aku mengabaikannya. Kusetop bis lalu turun dengan cepat, walaupun sebenarnya belum sampai ketujuan. Ku lanjutkan dengan langkah-langkah panjang. Ku pikir dia tak akan mengikutiku lagi, tapi salah. Ternyata dia ikut turun lalu terus berjalan cepat hendak menyamai langkahku. Aku mengeluh, tapi bersikap tak perduli pada upayanya itu. Namun ketika aku hendak menyebrang jalan, kurasakan tarikan kencang ditangan kiriku. Tubuhku terayun ke samping si penarik yang tak lain cowok iseng itu lagi. Dua tangannya itu tiba-tiba ikut memegangi pinggangku mungkin untuk menahan tubuhku agar tak terjerembab jatuh ke tanah karena tarikannya itu. Aku menjerit tertahan. Sebuah kijang pick up melaju kencang didepanku. Hanya berjarak beberapa jengkal dari tubuhku.
          Sekejap kemudian segera kulepaskan tubuh dari tangan-tangan cowok gondrong itu. Mataku mulai membola dan mungkin saat ini mulai memerah juga, dadaku terasa sesak, seperti mo turun hujan dari mataku. Dia mendadak pamit, mungkin karena melihat perubahan di riak mataku itu. Kutarik nafas lega lalu dengan hati yang lapang kusetop bis yang lewat, bermaksud hendak menuju rumah.
           Mama berkata padaku bahwa katanya, Tante Heni atau adik bontot Papa yang tinggal diMedan itu anak cowoknya kuliah juga di kampusku, tapi Mama tidak tahu dia jurusan apa. Anaknya juga tidak mau tinggal bersama Ika, dia lebih suka ngekost sendiri. Tante Heni akan ke Jakarta dua hari lagi, hari minggu. Keluarga Tante Heni memang jarang berkunjung ke Jakarta. Kalaupun pernah, tak pernah lengkap datang dengan suami dan anak-anaknya. Keluargaku juga begitu, hampir gak pernah ke Medan. Sehingga informasi tentang mereka gak begitu dekat ditelinga kami. Kecuali Bang Hardi, Mama ingat sekali anak sulung Tante Heni itu. Kata Mama anak Tante Heni yang kuliah di Jakarta itu adalah anak ketiganya.

• Hal Ke 3

(Contoh Resensi cerpen) – Pintu kamarku diketuk bik Imah, melaporkan kalau Tante Heni dan anaknya telah sampai dirumah. Kuhentikan mengetik tugas kampus didepan komputer lalu menarik langkah keluar. Akupun berjalan mendekati mereka, anaknya Tante Heni sedang tekun mengamati majalah Kosmo Pria yang digeletakkan bang Riko dimeja ruang keluarga itu.
          “Nah… ini lho Hen keponakan bontotmu, Ika,” suara Mama tersadar dari keasikannya bercerita tentang Papa. Langkahku sudah kian dekat ke Tante Heni dan anaknya. “Wah…Cantik sekali! Ya, Rio…ini lho sepupumu itu,” suara Tante Heni, seraya berdiri dari duduknya. Kami bersalaman. Sedangkan cowok bersama Tante Heni itu, baru beberapa detik kemudian berdiri dan berbalik mendapatiku. Mata kami bertemu. Senyumku mendadak patah dan bola mataku membola seperti hendak keluar dari tempatnya. Hal yang sama juga berlangsung di diri cowok itu, matanya tak kalah melototnya.
          Aku berusaha menepiskan kekakuan yang tercipta, menyambut perlahan uluran tangan Rio lalu menarik kembali senyumku. Lalu ikut berbasa-basi menanyai dia seperti dia menanyaiku.
      Yah… kami saling berpura-pura baru bertemu hari itu padahal kurasa dikepalanya saat ini melintas semua perangainya padaku yang baru kemarin masih kurasakan, diisengi, digombali, dikejar-kejar untuk kenalan! Sesekali senyum nakalnya mencuat lalu diikuti sikap groginya sambil menggrauk-garuk kepalanya. Perasaanku sendiri sekarang ini masih diantara percaya dan tidak, juga antara kesal dan berusaha memaafkan. Dialah cowok yang melempariku dengan kertas di kuliah Kewiraan serta yang membuatku hampir ditabrak kijang pick up. Tapi juga dia yang menyelamatkanku. Tak pernah terpikirkan olehku kami sepupuan. Benar juga kata pepatah, dunia ini hanya seluas daun kelor

C. Analisis Unsur

1.) Intrinsik
• Tema  : Dunia ini hanya seluas daun kelor
•  Latar   : – Di dalam bis (kesal dan marah)
                   – Di Aula kampus (Malu, sedih, dan marah bercampur-baur
                   – Di Jalanan (terburu-buru dan kaget nafasnya seolah terhenti).
                   – Di Rumah Ika.
•  Alur    : Alur maju

•  Tokoh : – Ika

– Rio (sepupu Ika)

– Santi (sahabat Ika)

– Mama Ika

– Papa Ika

– Bang Hardi (sepupu Ika)

– Tante Heni (adik bontot Papa Ika)

– Bik Imah (pembantu)

– Bang Riko (Kakaknya Ika)

•  Watak  : – Ika ; Jutek, cuek, baik, dan keras kepala.
                    – Rio ; Ngeselin, iseng, jail, keras kepala, lancang, pengombal, dan penyelamat
                    – Mama : Baik, ramah.
                    – Tante Heni : Baik, ramah.
• Sudut Pandang : Orang Pertama Pelaku Utama dalam cerita.
• Amanat              :  Saling bersilahturahmilah terhadap keluarga sendiri yang letaknya jauh maupun dekat.
2.) Ekstrinsik
• Nilai Moral   : – Jangan bersikap lancang dan tidak sopan terhadap orang yang baru dikenal.
• Nilai Sosial    : – Saling tolong-menolong.
                          – Saling Bersilaturahmi dan berkunjung kerumah saudara.
• Nilai Budaya : –

D. Kekurangan dan Kelebihan

1.) Kekurangan

• Bahasanya baku-baku sehingga ada yang susah dimengerti mungkin bagi pembaca.

2.) Kelebihan

• Alur dari ceritanya mudah dipahami.

• Memiliki cover judul.

• Cara penulisan cerpen rapi.

E. Penutup

Cerpen ini sangatlah cocok untuk para remaja, karena menceritakan tentang percintaan dengan penuh perjuangan mendapatkannya namun ternyata dia adalah sepupuan jauh yang selama ini tinggal di Medan. Dari cerpen tersebut kamupun bakal banyak mendapatkan pelajaran berharga dari kisah indah didalam cerpen ini (termasuk yang sudah dewasa) untuk senantiasa berusaha memaknai masa remaja dalam koridor yang penuh dengan ketulusan, kejujuran dan kehangatan. Apalagi, bila gelora itu sudah melibatkan dimensi terdalam pada diri manusia,yaitu CINTA. Cerpen ini layak untuk dipublikasikan di masyarakat dan mendapatkan apresiasi.
Artikel yang bersangkutan : “Contoh cara wawancara yang baik dan benar

2. Aku Mencintaimu dengan Bismilah

3 Contoh Resensi Cerpen Terbaru dan Terunik

  • Judul Cerpen : Aku Mencintaimu dengan Bismillah
  • Pengarang      : Benny Can
  • Penerbit          : –
  • Tebal buku     : 192 Halaman
  • Cetakan           : Tahun 2013
  • Penerjemah    : –
  • Cerpen yang di resensi : Dari halaman 8 s/d 9

A. Pendahuluan

Benny Can memilki nama panjang Benny Candra Adinata. Beliau lahir dan menetap di Dungkek, Sumenep, Jawa Timur. Beliau adalah Penyelenggara PKBM AL-ITQAN di Dungkek, dan juga aktif mengajar sebagai guru di SDN Dungkek 1 Jawa Timur. Aktif menulis cerpen sejak bulan Mei 2013 dan 11 judul cerpen dipublikasikan di Radar Madura dan Jawa Pos. Beliau juga aktif menulis puisi sejak SMA dengan 3 judul yang di publikasikan di media yang sama. Apabila ingin menghubungi beliau bisa menghubungi di 081703354654.

B. Isi Cerpen / Sinopsis

(Contoh Resensi cerpen) – Rendi adalah seorang pria yang digambarkan sangat romantis, ia memiliki seorang kekasih bernama Shekar, suatu hari mereka berdua pergi ke sebuah pantai, di keindahan pantai saat matahari terbenam, Rendi menyatakan cintanya kepada Shekar dengan mengatakan “Shekar, aku mencintaimu dengan Bismillah”. Tak lama setelah itu Yuli, kawan Rendi, datang untuk berbicara sejenak. Rendi dan Yuli pun berbicara jauh dari Shekar. Yulis pun memberitahu bahwa Shekar tidak akan bisa punya anak karena Rahim nya diangkar untuk penyembuhan tumor. Rendi pun terkejut dan bertanya kepada Shekar.

Shekar pun sedih dan berlari, namun Rendi mengatakan “Aku memulai cinta ini dengan bismillah dan tak mungin berhenti sebelum amin mengamini. Jadi tak ada alasan untukku meninggalkanmu sebelum Tuhan mengamini semua mimpi-mipiku untuk bersamamu mengikat janji suci dengan ikatan halal. Jantung ini berdetak serasa separuh jantung adalah jantungmu. Mata ini, jika kau tatap ada ketulusan. Peluklah aku rasakan kesungguhan. Shekar, masalah anak itu belakangan, yang terpenting adalah bagaimana kita sebisa mungkin minikmati pelaminan bersama”. Shekar pun tersenyum sambil menjawab “Jangan tinggalkan aku”.

C. Analisis Unsur

1.) Intrinsik 

Tema : Cinta dan Kesetiaan

Latar : Pantai di sore hari

Alur : Maju

Tokoh : Rendi, Shekar, Yuli

Perwatakan :

  1. Rendi : Penyabar, menerima kenyataan dengan lapang dada.
  2. Shekar : Kekasih Rendi, mencoba menerima kenyataan tidak bisa hamil.
  3. Yuli : Pemberi informasi tentang Shekar kepada Rendi

Sudut Pandang : Orang pertama pelaku utama.

Amanat : Terima lah kenyataan dengan lapang dada, karena disetiap musibah pasti terdapat hikmah yang dapat diambil.

2.) Ekstinsik

Nilai Moral : Cobalah terima kenyataan dengan lapang dada, karena Allah memberi

cobaan yang sesuai dengan kemampuan makhluknya.

Nilai Sosial : Tetap hargai seseorang meskipun ia memiliki kekurangan, karena dibalik

kekurangannya, biasanya tersimpan potensi yang sangat besar.

D. Kekurangan dan Kelebihan

  1. Kekurangan :

Ending/penyelesaian ceritanya kurang jelas, dimana tidak diceritakan ketika mereka akhirnya resmi menikah dan sebagainya, cerita hanya mentok sampai ke perasaan Yuli ketika Rendi tetap menerimanya. Pembaca jadi merasa digantungkan.

  1. Kelebihan :

Cerpen ini sarat akan makna, apabila direnungkan dengan baik akan membuat pembaca menangis, terutama ketika Rendi yang tetap menerima Shekar meskipun tidak akan mungkin akan mempunyai anak. Akan lebih menarik apabila cerita ini diangkat ke dalam film.

E. Penutup

Cerpen ini merupakan cerpen yang bisa menjadi bahan untuk kita renungkan, dimana ketabahan seorang Shekar yang diberi cobaan tidak bisa memiliki anak karena tumor dan ketulusan Rendi dalam menerimanya, selain itu cerpen ini juga menggambarkan bahwa kata Basmallah merupakan awal bagi segala hal. Meskipun penyelesaian cerpen ini kurang jelas namun runtutan dan kejelasan ceritanya cukup membuat pembaca tercengang.

3. Lintang

3 Contoh Resensi Cerpen Terbaru dan Terunik

  • Judul Cerpen : Lintang
  • Pengarang      : Rieke Dyah Pitaloka
  • Penerbit          : Ltha Collection
  • Tebal buku     : 120 Halaman
  • Cetakan           : Tahun 2008
  • Penerjemah    : –
  • Cerpen yang di resensi : Dari halaman 3 s/d 4

A. Pendahuluan

B. Isi Cerpen

Hal Ke- 1

(Contoh Resensi cerpen) – Wajahnya seperti embun, matanya bening. Bibir mungilnya selalu tersenyum membuat setiap orang yang bertemu ingin menyapa. Ia seorang perempuan yang merancang sendiri kehidupannya. Sejak remaja ditentukannya apa yang akan ia lakukan, kapan akan menikah, dengan laki-laki seperti apa, akan punya anak berapa, seperti apa akan membesarkan mereka, itu semua sudah ia pikirkan. Perempuan itu menggoreskan sendiri takdirnya.Begitulah gambaran Lintang,penerjang rintang kehidupan.Hidup itu misteri , takkan ada yang pernah mengetahui apa yang terjadi esok hari. Hamba hanya berrencana,pemilik alam lah yang menentukan kejadiannya.Terkadang,kehidupan memang tak sesuai harapan,Lintang mengalami terjalnya jalan kehidupan Malang.Pemilik kehidupan hakiki berkata lain padanya, Saat berusia dua puluh tahun ia jadi ibu dari dua anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Sebuah peristiwa telah mengubah impiannya, jadi mimpi menyeramkan.

Hal Ke 2

(Contoh Resensi cerpen) – Sekolah tempat ia bekerja dibakar. Ayah dan suaminya menghilang entah ke mana. Tinggallah ia bersama ibu, delapan adik, dan dua anak di rumah masa kecilnya. Tak ada yang mau mendekati rumah itu. Beberapa orang bahkan melempari temboknya dengan tinja. Siang hari hanya mereka yang bersepatu lars sesekali terlihat ke luar masuk. Malam hari rumah itu bagai bayangan besar yang pekat, gelap, tak ada terang setitik pun. Pintu dan jendelanya tetap terbuka. Engsel engselnya menjerit saat angin menyentuh. Tapi perempuan itu tahu kadang ada nafas-nafas lain selain ia, ibu, adik dan anaknya. Mereka, gerombolan bersarung yang siap menggasak apa saja, termasuk nyawa sekalipun.Derita melanda, Nestapa dirasa.

Selama mentari masih bersinar,berarti masih tersimpan misteri besar. Suami nya pulang,Rona gembira merasuki jiwa,namun sayang,secara hakiki hal itu belum menjadi miliknya.Mereka harus pergi,meninggalkan sang buah hati,Teguh. Perempuan itu harus bertahan bersama Suryo dan bidadari kecilnya,Maya.Mereka bertiga tak boleh mati! Perempuan itu tahu, tak ada pilihan, si kecil pun harus dibiasakan dengan panggilan baru, mengingat nama baru ayah dan ibunya, dan tentu saja tak boleh bercerita tentang kakek- neneknya kepada orang lain. Perempuan itu sadar, jika ingin hidup, tak ada pilihan, mereka harus kubur semua riwayat.

C. Analisis Unsur

1.) Intrinsik

• Tema : Kehidupan
•  Latar : Jakarta & Jawa barat
•  Alur : Maju Mundur
•  Tokoh : Aku,Lintang,Ibu,Adiknya,Suryo,Ayah Lintang,Maya,Teguh, gerombolan bersarung,Mang Golibi,Kiai Hanafi,
•  Perwatakan
– Lintang : Tegar,Berani,Penyayang,gigih,Bijaksana,penyabar,ulet,perfeksionis
– Suryo : Pemberani,Teguh,
– Ibu: Bijaksana,Sabar,penyayang
– Ayah : Teguh , gigih , pekerja keras
– Maya : Polos
– Gerombolan bersarung : Jahat,bengis,kejam,sadis
– Mang Golibi : Baik , ramah , penolong
– Kiai Hanafi : Penolong , penyabar
6. Sudut Pandang :
7. Amanat : berpeganglah teguh dalam hidup , berjuanglah hingga titik darah penghabisan,hadapi rintangan dan jawablah tantangan.

2.) Ekstrinstik

Nilai Moral : Hidup tak sesederhana merangkai kata,jalan terjal berliku pasti menghiasinya,berjuang ditengah kenestapaan,kelak kau akan menjadi ikon kehidupan bagi orang lain
Nilai Sosial : Himpitan dan genjatan bukan alasan untung mengakhiri jalan kehidupan,hidup harus terus berjalan,hingga akhir nafas kehidupan dan nama terukir di batu nisan
Nilai Budaya : Keadaan hiruk pikuk kesadisan kekejaman di Indonesia pada jaman dahulu kala. Cerpen ini menggambarkan masa-masa 1900 an

D. Kekurangan dan Kelebihan

Kekurangan
Bahasa nya sulit di mengerti,terlalu berputar putar dan berkias kias hingga sulit untuk menemukan inti cerita dan makna jika hanya dibaca satu kali.Belum lagi tutur bahasa yang digunakan seperti era balai pustaka jadi hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat memahami dengan baik apa isi dari cerita ini

Kelebihan
Menarik untuk dibaca apalagi topik yang diangkat ringan dan familiar.Penulis menggunakan seni menulis yang sangat tinggi dalam penulisan karya sastra ini,berimajinasi sangat jauh sehingga membawa pembaca bertamasya ke era 1900 an yang keadaannya bertolak belakang dengan era modern ini.Tema yang dibawakan memang sederhana,namun penggambaran dan pengembangan cerita membuat cerita ini tampak luar biasa.

E. Penutup

Cerpen ini merupakan bacaan menarik bagi kalangan pelajar atau kaum dewasa yang menyukai sastra.Melalui cerpen ini,penulis mengajak pembaca menyusuri dimensi waktu ke masa lampau yang situasi nya bertolak belakang dengan kehidupan di era modern,menguras emosi dan merasakan kenestapaan hidup seorang “Lintang”. Meskipun sedikit membingungkan,namun apabila diresapi cerita ini memiliki banyak hal menarik dan menguras emosi pembaca.

Itulah Penjelasan dari 3 Contoh Resensi cerpen, bagaimana sudah memahami nya ? Ayo mulai membuat cerpen karyamu sendiri. Jika anda masih kebingungan cara meresensi cerpen coba anda buka artikel di bawah Ini

2 pemikiran pada “3 Contoh Resensi Cerpen Terbaru dan Terunik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *